–
Apabila ada yang mengatakan kepada janin di rahim, “
Di luar sana ada sebuah dunia yang teratur …
Sebuah bumi yang menyenangkan, penuh kesenangan dan makanan, luas dan lebar ….
Gunung, lautan dan daratan, kebun buah-buahan mewangi, sawah dan ladang terbentang …..
Langitnya sangat tinggi dan berbinar, sinar mentari dan cahaya bulan serta tak terkira banyaknya bintang ……
Keajaibannya tak terlukiskan: Mengapa kau tetap tinggal, mereguk darah, di dalam penjara yang kotor lagi penuh penderitaan ini ?
Janin itu, sebagaimana layaknya, tentu akan berpaling tak percaya sama sekali; karena yang buta tak memiliki imajinasi.
Maka, di dunia ini, ketika orang suci menceritakan ada sebuah dunia tanpa bau dan warna,
Tak seorangpun diantara orang-orang kasar yang mau mendengarkannya: hawa-nafsu adalah sebuah rintangan yang kuat dan perkasa …
Begitupun dengan hasrat janin akan darah yang memberinya makanan di tempat yang hina. Merintanginya menyaksikan dunia luar, selama ia tak mengetahui makanan selain darah semata.