SIAPAKAH MEREKA ITU ?
mereka mengaku sebagai anak-anakmu
tapi mereka tidak mengenalmu
mereka mengaku sebagai ahliwarismu
tapi mereka tidak berpegang pada wasiatmu
mereka mengaku darahnya adalah bagian dari darahmu
tapi kesyahidan baginya adalah dulu
mereka mengaku sebagai ummatmu
tapi mereka hidup dalam belenggu kepala suku
mereka mengaku Engkaulah rahmatan lil’alamien itu
tapi mereka gemar menyeru fitnah, perang pada sesamanya dan berseteru
mereka mengaku sebagai penyambung pesanmu
tapi mereka tidak menangkap dan mencari risalahmu
mereka mengaku sebagai pengikut setiamu
tapi mereka lenyapkan tapak tilasmu
mereka mengaku Engkaulah penghulu para imam
tapi mereka ber imam pada selainmu
mereka mengaku Engkaulah kota ilmu itu
tapi mereka enggan untuk mengaku
mereka mengaku Allah telah mendidikmu
tapi mereka percaya Engkau gagal mendidik keluargamu
mereka mengaku sebagai pencintamu
tapai mereka tidak peduli pada ahlil-baitmu
mereka mengaku sebagai pembelamu
tapi tersenyum pada musuh-musuhmu
mereka mengaku hatinya adalah bagian dari hatimu
tapi mereka tidak berduka atas dukamu
mereka mengaku bersedih atas kesedihanmu
tapi menangis untukmu adalah tabu
mereka mengaku mencintaimu,
tapi karbala tidak lebih layak diperingati
ketimbang hiroshima, nagasaki
mereka mengaku mencintaimu,
tapi ijtihad, cukup alasan bagi pembunuh cucu-cucumu
mereka mengaku Engkaulah uswah hasanah
tapi mereka hanya mencontoh ayah-ayahnya
mereka mengaku Allah dan Rasulullah
adalah tujuan akhir hijrahnya
tapi kebanggaan persaingan maqom telah menyibukkannya
mereka mengaku Engkaulah penyeru ukhuwwah
tapi kata mereka :”Kepentingan kami lebih utama”
mereka mengaku
Engkaulah pembebas budak, mustadz’afien dan kaum papa
tapi mereka menjeratnya kembali dengan dalih agama
mereka mengaku Engkaulah manusia sempurna
tapi mereka mau sibuk mencari kekuranganmu
mereka mengaku Engkau terjaga oleh Sang Maha Kuasa
tapi katanya, sama saja manusia seperti mereka
mereka mengaku Engkaulah pemilik akhlaq mulia
tapi katanya sempat angkuh pada yang papa
mereka mengaku Engkaulah imam akhirat dan dunia
tapi katanya :”Urusan dunia kami adalah ahlinya”
mereka mengaku jiwa raga dan akalnya tunduk patuh padamu
tapi ijtihadnya mengunggulimu
mereka mengaku hanya kebenaran, wahyu yang datang dari lisanmu
tapi katanya emosi perasaanmu seringkali mengelabuimu
mereka mengaku Allah, malaikat bersholawat atasmu
tapi katanya itu kultus individu
mereka mengaku sabdamu adalah wahyu
tapi katanya ada yang tidak perlu
mereka mengaku risalahmu meliputi alam semesta
tapi katanya, pikirannya, keluarganya, kelompoknya,
partainya, alirannya cukup mewakilimu
mereka mengaku Engkau mengajarkan iman adalah perbuatan nyata
bagi mereka, semuanya cukup hanya dengan bicara
mereka mengaku islam sebagai agamanya
tapi mereka jadikan mazhab sebagai gantinya
mereka mengaku merindukan pertemuan denganmu
tapi mereka tidak malu kalau seperti itu
mereka mengaku, mengaku dan mengaku
akhirnya mereka tidak tahu
siapakah mereka itu ?
ampuni kami ya Allah, maafkan kami yaa Rasulallah
maghfirahMu ya Allah, syafa’atmu ya Rasulallah
(Haydar Yahya)
4U
Why don’t you feel me
Why can’t I hold your hand
(You) never said that you’d leave me
and I know you are somewhere
I held you up
Every time you were down
Your crying stopped
When I was around…but…
Why don’t you love me?
Enough to stay with me
Now tell me truly
Was it there in your heart too?
All that I’m left with
Is a dream of me and you
You filled my soul
With your beauty and with hope
We’re different although
We were just like water in sand
Why dont you feel me
Why cant I hold your hand
You never said that you’d leave me
And I know you are somewhere
I held you close
When you fell to the ground
And now you’ve torn all my hope apart
You could have said good-bye
Fihi ma Fihi 139/148
Al-Qadiir, Yang Maha Kuasa, tidak memberkati
sesuatu pun tanpa kebutuhan.
Jika tiada kebutuhan bagi dunia, Tuan dari penduduk
dunia tidak akan pernah menciptakannya.
Jika bumi yg bergempa ini tidak membutuhkan
gunung-gunung, akankah Dia menciptakannya?
Andaikata tiada kebutuhan akan cakrawala, Dia
tidak akan mewujudkan tujuh langit dari non-wujud.
Matahari, bulan, dan bintang-bintang, bagaimana
mungkin menampak jika tiada tersirat kebutuhan?
Jadi, simpul segala wujud adalah kebutuhan.
Kelengkapan manusia adalah keluasan dari kebutuhannya.
Maka, oh manusia yg penuh dengan kebutuhan, segeralah tambah kebutuhanmu! Lalu Lautan Karunia akan melimpah dalam kemurahan. Para pengemis dan si pincang di jalanan menunjukkan kebutuhan mereka pada orang-orang.
Kebutaan, kepedihan, rasa sakit, dan derita,
sehingga orang-orang akan menaruh iba.
Pernahkah seorang pengemis berkata, “Wahai manusia, berilah aku roti karena aku memiliki kekayaan, gudang-gudang, dan meja yg lebar!”?
–
Apabila ada yang mengatakan kepada janin di rahim, “
Di luar sana ada sebuah dunia yang teratur …
Sebuah bumi yang menyenangkan, penuh kesenangan dan makanan, luas dan lebar ….
Gunung, lautan dan daratan, kebun buah-buahan mewangi, sawah dan ladang terbentang …..
Langitnya sangat tinggi dan berbinar, sinar mentari dan cahaya bulan serta tak terkira banyaknya bintang ……
Keajaibannya tak terlukiskan: Mengapa kau tetap tinggal, mereguk darah, di dalam penjara yang kotor lagi penuh penderitaan ini ?
Janin itu, sebagaimana layaknya, tentu akan berpaling tak percaya sama sekali; karena yang buta tak memiliki imajinasi.
Maka, di dunia ini, ketika orang suci menceritakan ada sebuah dunia tanpa bau dan warna,
Tak seorangpun diantara orang-orang kasar yang mau mendengarkannya: hawa-nafsu adalah sebuah rintangan yang kuat dan perkasa …
Begitupun dengan hasrat janin akan darah yang memberinya makanan di tempat yang hina. Merintanginya menyaksikan dunia luar, selama ia tak mengetahui makanan selain darah semata.
Perkawinan, esensinya
Rumi berkata:
“Siang dan malam kamu berada di medan peperangan, berjuang keras untuk mengubah sifat si lawan jenis, untuk menjernihkan ketidakmurnian mereka dan untuk mengoreksi kesalahan-kesalahan. Lebih baik untuk menyucikan dirimu sendiri melalui mereka ketimbang mencoba menyucikan mereka melalui dirimu. Ubahlah dirimu dengan bantuan mereka. Pergilah kepada mereka dan terimalah apa-apa yang mereka katakan, sekalipun dari sudut pandangmu kata-kata mereka terdengar aneh dan tidak adil.
Nabi Muhammad Saw. berkata: “Tidak ada kerahiban dalam Islam”, itulah sebuah kebenaran.
Cara hidup para rahib adalah penyepian, yang berdiam di gunung-gunung, laki-laki tidak hidup dengan wanita dan menjauhkan diri dari dunia. Allah menunjukkan kepada Nabi sebuah jalan lurus yang tersamar.
Jalan apa itu ? Jalan Perkawinan, sehingga kita dapat menghadapi cobaan-cobaan hidup bersama dengan pasangan kita, untuk mendengarkan tuntutan mereka, demi mereka yang memperlakukan kasar kepada kita, yang dengan cara ini untuk menghaluskan perangai kita sendiri.
Dengan memikul dan hidup bersama dengan perangai kejam pasanganmu, ini seolah-olah kamu menghapus ketidakmurnianmu sendiri melalui mereka. Perangaimu menjadi baik melalui kesabaran; perangai mereka menjadi buruk melalui penguasaan dan penyerangan. Ketika kamu menyadari ini, buatlah dirimu bersih. Ketahuilah bahwa mereka seperti sebuah pakaian; melalui diri mereka, kamu dapat membersihkan ketidakmurnianmu sendiri dan dirimu menjadi bersih.
Tepiskanlah kebanggaanmu, kecemburuan dan iri-hati, sampai kamu mengalami kesenangan dalam berjuang dan memikul penderitaan. Melalui tuntutan-tuntutan mereka temukanlah keriangan spiritual. Setelah itu, kamu akan memikul perjuangan serupa, dan kamu tidak akan lari dari penindasan, karena kamu akan melihat keuntungan-keuntungan yang mereka berikan untukmu.
[saya mohon maaf kepada para wanita yang setia kepada suami karena menuliskan bagian di bawah ini]
Dikisahkan bahwa suatu malam Rasulullah saw. kembali dengan para sahabat dan pengikutnya dari sebuah serangan. Nabi memerintahkan mereka untuk menabuh genderang, seraya berkata “Malam ini kita akan tidur di gerbang kota dan memasuki kota esok harinya.” Mereka bertanya, “Wahai Rasululah, mengapa kita tidka langsung pulang saja ?” Dia berkata, “Mungkn saja kamu melihat isterimu di tempat tidur bersama lelaki lain. Kamu akan sakit hati dan akan menimbulkan keributan.” Salah seorang pengikut tidak mendengar pesan ini; dia masuk ke rumah dan menemukan isterinya bersama lelaki asing.
Jalan sang Nabi Saw. adalah: Perlulah memikul penderitaan untuk membantu membuang keegoan diri, kecemburuan dan kecongkakan. Mengalami penderitaan dari hasrat-hasrat pasangan kita yang luar biasa, penderitaan dari beban yang sungguh tidak adil, dan seratus ribu penderitaan lain di atas semua ikatan sehingga jalan spiritual menjadi jelas. Jalan Isa as. adalah bergelut dengan kesunyian dan tidak memanjakan hawa nafsu. Jalan Muhammad adalah untuk memikul penindasan dan penderitaan yang disebabkan oleh laki-laki dan wanita kepada pihak lain. Jika kamu tidak dapat berjalan dengan jalan Muhammad, setidaknya pergilah dengan jalan Isa, agar kamu tidak sepenuhnya berjalan di luar jalan spiritual.
Jika kamu memperoleh ketenangan untuk memikul seratus pukulan, yang melihat buah-buahan dan panenan yang muncul darinya, atau mempercayai dalam hatimu yang tersembunyi, “Meskipun saat ini aku tidak melihat buah dari penderitaan ini, pada akhirnya aku akan mencapai perbendaharaan itu, ya, dan lebih dari yang pernah kamu inginkan dan harapkan.
Jika kata-kata ini tidak mempengaruhimu sekarang ini, setelah sesaat kamu menjadi lebih dewasa, kata-kata itu akan meninggalkan sebuah kesan yang besar. Inilah perbedaan antara berbicara dengan pesanganmu dan seorang kawan. Ketika kamu berbicara kepada pasanganmu, mereka masih tetap sama dan tidak akan mengubah cara-cara mereka apapun yang kamu katakan. Kata-katamu tidak memiliki pengaruh kepada mereka, sekalipun mereka lebih merasa yakin.
Misalnya ambilah sepotong roti, letakkan di bawah tanganmu, dan jangan berikan kepada orang lain, dengan berkata, “Aku tidak memberikannya kepada siapapun. Berikan ? Mengapa, aku bahkan tidak mau menunjukkannya.”
Sekalipun jika irisan roti itu dilempar dimana hewanpun tidak mau memakannya karena roti saat itu begitu berlimpah dan murah – tetapi di saat kamu mulai menolaknya, setiap orang mengejarnya dan memancangkan hati kepadanya, memohon dan menuntutnya, “Kami ingin melihat roti itu yang kamu tolak dan sembunyikan.” Terutama jika kamu menyembunyikannya selama setahun, dengan bersikeras secara halus bahwa kamu tidak akan memberikan ataupun menunjukkannya, keinginan mereka untuk melihat roti itu akan menerjang semua pembatas, karena, “Orang-orang bergairah pada apa saja yang tidak diberikan kepadanya.”
Semakin kamu memberitahu pasanganmu, “Tetaplah sembunyikan dirimu” semakin besar dorongan mereka untuk menggoda dan menunjukkan diri. Dan melalui penyembunyian wujud mereka, lawan jenis menjadi lebih menginginkannya. Jadi tempatkan dirimu di tengah-tengah, yang memperbesar keinginan mereka pada kedua sisi, dan anggaplah dirimu sebagai pembaharu !
Mengapa, itulah esensi dari korupsi. Jika mereka memiliki dalam diri mereka kualitas alamiah untuk tidak melakukan kejahatan, apakah kamu mencegah mereka atau tidak, mereka akan melakukannya sesuai dengan temperamen mereka yang baik dan ketetapan-hati yang murni. Jadi yakinlah dan jangan cemas. Jika mereka besikap sebaliknya, mereka tetap akan melanjutkan jalan mereka sendiri; mencoba untuk menghentikan mereka sesungguhnya tidak lain kecuali meningkatkan kemauan mereka.
Nama Diri sebenarnya
Rumi bersajak,
Pernahkah kau dengar nama segala sesuatu dari Yang Maha Mengetahui ?
Dengarlah makna rahasia “Dia mengajarkan kepadanya Nama-Nama” [1]
Bagi kita, nama segala sesuatu adalah bentuk-bentuk lahirnya; bagi Sang Maha Pencipta, ia adalah hakekat bathinnya.
Dalam pandangan Musa, nama tongkatnya adalah ‘tongkat’; dalam pandangan Rabbu-l-alamiin namanya “naga”. [2]
Di dunia ini nama ‘Umar’ adalah ‘pemuja berhala’, namun di alam baqa ia adalah “mukmin yang sesungguhnya”. [3]
Di hadapan Allah Ta’ala, pendek kata, segala yang merupakan tujuan kita adalah nama kita yang sesungguhnya. [4]
i says:
[1] Dia adalah Yang Maha Mengetahui, Yang Maha Memiliki Pengetahuan. Dan Nabi Adam as menerima pengajaran langsung daripada-Nya, dengan demikian menjadikan Adam as. melihat segala sesuatu sebagaimana hakekatnya, dan itulah yang Allah Ta’ala perintahkan kepadanya untuk menyebutkan Nama-Nama kepada para Malaikat…. QS.[2]:31. Sedangkan untuk manusia awam seperti kita, lihat QS.[2]:282.
[2] Ketika Nabi Musa as melemparkan tongkatnya maka tongkat itu berubah bentuknya menjadi seekor naga yang membuat panik para ahli sihir dan pengikut Fir’aun …. QS.[7]:107
[3] Umar bin Khattab, khalifah yang kedua, semasa belum mengikuti Nabi Saw. adalah penentangnya.
[4] Tujuan kita adalah menunaikan satu-satunya amanah yang telah diperjanjikan dalam masa penciptaan, dan itu adalah nama diri kita yang sebenarnya. Seperti pohon buah, dikenali namanya dari nama buahnya sedangkan pohon bunga dikenali namanya dari nama bunganya. Pohon yang tidak berbuah dan tidak berbunga adalah seperti pohon yang tidak punya nama.
Dunia ini adalah alam dengan penuh keragaman bentuk, yang karenanya, ia adalah alam bentuk-bentuk. Sedangkan makna dari bentuk-bentuk itu bukan berada di dunia, ia berada di tempat yang lain, yang karenanya dinamai alam makna tanpa bentuk-bentuk, alam khoyyal, yang hanya bisa disentuh oleh rasa-jati insaan, qalb al-mu’min.
Nama diri kita yang di dunia ini adalah nama yang bagian dari alam bentuk-bentuk tanpa makna. Dan nama diri kita yang sesungguhnya ada di alam makna yang tanpa bentuk itu tadi. Nama yang sesungguhnya, nama yang harus kita raih, nama sejatinya-diri kita.
Pendakian Jiwa…
Rumi bersajak
Aku mati sebagai mineral dan menjadi tumbuhan,
Aku mati sebagai tumbuhan dan muncul sebagai hewan,
Aku mati sebagai hewan dan aku menjadi Insaan.
Mengapa aku mesti takut ? Bilakah aku menjadi rendah karena kematian ?
Namun sekali lagi aku akan mati sebagai Insaan, untuk membumbung
bersama para malaikat yang direstui; bahkan dari tingkat Malaikatpun
Aku harus wafat: Segala akan binasa kecuali Allah. [1]
Ketika Jiwa Malaikatku telah kukorbankan,
Aku akan menjadi sesuatu yang tak pernah terperikan oleh pikiran.
Oh, biarkan aku tiada ! Karena Ketiadaan
Membisikkan nada dalam telinga, “Sesungguhnya kepada-Nya-lah kita kembali.” [2]
i says:
[1] Lihat QS. Al Qashash [28]:88
[2] Lihat QS. Al Qashash [28]:88 juga ada di QS. Al Baqarah [2]:156
Sebagaimana Al Ghazali juga mengatakan dalam kitabnya bahwa perbedaan manusia dengan makhluk lainnya di semesta alam-alam ini adalah karena manusia bisa mewadahi ilmu dan hikmah. Katanya : Manusia bisa menerima, menampung, mewadahi ilmu & hikmah. Yang termulia dari ’ramuan/kimiya ilmu-pengetahuan’ adalah pengetahuan tentang Allah Swt., Shifat-shifat-Nya, Asma-asma-Nya, tindakan-tindakan atau af’al-Nya. Dan hanya oleh sebab itulah manusia akan menjadi sempurna. Dan oleh sebab itu pula maka manusia diciptakan Allah Swt. dengan bentuk seperti kita sekarang ini.
Dengan demikian manusia yang belum menjadi wadah dari ilmu dan hikmah adalah seumpama makhluk lainnya yang lebih rendah, apakah itu sekualitas dengan mineral atau lebih tinggi sedikit yakni sekualitas tumbuhan atau lebih tinggi lagi yakni hewan. Al Ghazali juga mengungkap bahwa manusia yang tidak menjadi wadah ilmu dan hikmah adalah seumpama manusia-hewani atau dengan kata lain ia belum menjadi “manusia yang sebenarnya” walaupun ujudnya seperti manusia tetapi pada hakekatnya ia belum menjadi manusia. Dan menjadi manusia yang sebenarnya ini adalah “AKTUALISASI DIRI” berdasarkan kriteria Al Ghazali.
Mengapa seorang bisa belum menjadi manusia yang menjadi wadah ilmu pengetahuan dan hikmah ?
Rasulullah Saw. menjelaskan:
Bahwasanya hikmah datang dari langit, turun ke dalam qalb insaan kecuali qalb yang di dalamnya masih terdapat 4 (empat) perangai :
1. Perangai yang cenderung kepada dunia.
2. Perangai yang mendukakan masa depan.
3. Perangai yang mengharapkan kehormatan dari makhluk lain.
4. Perangai yang mendengki saudaranya sendiri.
Marilah kita tengok ke diri kita sendiri. Sudah seperti apakah kita ini ?
Tidur dan terlena …
Seseorang yang tinggal bertahun-tahun di suatu kota,
setelah ia tertidur segera,
Melihat kota lain yang penuh kebaikan dan keburukan,
serta kotanya sendiri hilang dari pikirannya.
Ia tak pernah berkata kepada dirinya, “Ini sebuah kota-baru; aku adalah seorang asing disini”; [1]
Sebaliknya, ia membayangkan selalu tinggal di kota ini, dilahirkan dan dibesarkan disini. [2]
Apakah mengherankan apabila kemudian,
diri tidak ingat lagi akan kampung halamannya dan tanah kelahirannya,
karena ia lelap saat di dunia ini, bagai sebuah bintang diselimuti awan ?
Apalagi saat ia melangkahkan kaki di berbagai kota dan debu yang menutupi penglihatannya belum tersapu. [3]
[1] “kota-baru” adalah alam dunia, di muka bumi yang lahiriyyah ini, tempat insaan menggunakan jasadnya untuk berjalan dan mengembara.
[2] “ia membayangkan selalu tinggal di kota ini” adalah tidak adanya ingatan bahwa ada sebuah kota lain yang sebenarnya adalah kampung halamannya yang sesungguhnya.
[3] “ia melangkahkan kaki di berbagai kota” adalah sebagai terminal-terminal dalam kehidupannya atau pengalaman-pengalaman lahiriyyah dalam kehidupannya, pendidikan orangtua dan sekolahnya, buku-buku bacaannya dan pergaulannya, semuanya adalah yang membentuk kerangka dasar dan membangun struktur berpikirnya….
“dan debu yang menutupi penglihatannya belum tersapu” adalah semua kerangka dan bangunan berpikirnya didirikan di atas dasar ketidakingatannya terhadap kotanya yang sesungguhnya. Keadaannya seperti debu yang menutupi penglihatan adalah tutupan ingatannya terhadap kotanya yang sesungguhnya belum terhapus tetapi ia sudah memasukkan pengetahuan baru tentang kota-kota yang di jalani oleh kakinya.
Mauthin Dunia jasad lahiriyyah adalah alam yang kurang nyata, ibaratnya seperti sebuah mimpi di alam tidur, sedangkan kesadaran yang sesungguhnya ada pada alam jiwa, malakutiyyah, yang lebih tinggi dan lebih nyata, tempat yang sesungguhnya bagi jiwa-jiwa manusia sebelum diperintahkan Allah Ta’ala turun ke bumi dan menggunakan pakaian jasadnya untuk berjalan, dan alam malakutiyyah pula tempat dimana ia berada setelah jasadnya mati, Mauthin Barzakh.
Ingatlah, bagaikan astronot yang berpakaian lengkap menjelajahi bulan. Dan ia selalu ingat bahwa tempat tinggalnya adalah di bumi sedangkan kehadirannya di bulan hanyalah singgah sementara waktu, tempat dimana ia bekerja melaksanakan misinya, untuk kemudian kembali ke bumi membawa hasilnya.
Tetap ingkar …
Apabila ada yang mengatakan kepada janin di rahim, “
Di luar sana ada sebuah dunia yang teratur …
Sebuah bumi yang menyenangkan, penuh kesenangan dan makanan, luas dan lebar ….
Gunung, lautan dan daratan, kebun buah-buahan mewangi, sawah dan ladang terbentang …..
Langitnya sangat tinggi dan berbinar, sinar mentari dan cahaya bulan serta tak terkira banyaknya bintang ……
Keajaibannya tak terlukiskan: Mengapa kau tetap tinggal, mereguk darah, di dalam penjara yang kotor lagi penuh penderitaan ini ?
Janin itu, sebagaimana layaknya, tentu akan berpaling tak percaya sama sekali; karena yang buta tak memiliki imajinasi.
Maka, di dunia ini, ketika orang suci menceritakan ada sebuah dunia tanpa bau dan warna,
Tak seorangpun diantara orang-orang kasar yang mau mendengarkannya: hawa-nafsu adalah sebuah rintangan yang kuat dan perkasa …
Begitupun dengan hasrat janin akan darah yang memberinya makanan di tempat yang hina. Merintanginya menyaksikan dunia luar, selama ia tak mengetahui makanan selain darah semata.
Buncis dalam periuk …
Lihatlah buncis dalam periuk.
Betapa ia meloncat-loncat selama menjadi sasaran api.
Ketika direbus, ia selalu timbul ke permukaan,
merintih terus menerus tiada henti.
Mengapa engkau letakkan api di bawahku ?
Engkau membeliku: Mengapa kini kau siksa aku seperti ini ?
Sang Isteri memukulnya dengan penyendok.
“Sekarang,” katanya, “jadi benar-benar matanglah kau dan jangan meloncat lari dari yang menyalakan api.
Aku merebusmu, namun bukan karena kau membangkitkan kebencian-ku, sebaliknya, inilah yang membuatmu menjadi lebih lezat.
Dan menjadi gizi serta bercampur dengan jiwa yang hidup: kesengsaraan bukanlah penghinaan.
Ketika engkau masih hijau dan segar,
engkau minum air dari kebun: air minum itu demi api ini.
Kasih Tuhan itu lebih dahulu daripada kemurkaan-Nya,
tujuannya bahwa dalam kasih-Nya engkau dapat menderita kesengsaraan.
Kasih-Nya yang mendahului kemurkaan-Nya itu supaya sumber penghidupan, yang ada, dapat dihasilkan;
Bahkan kemudian Tuhan Yang Maha Agung membenarkannya,
berfirman, ‘Sekarang engkau telah tercuci bersih, keluarlah dari sungai.’
Teruslah, wahai buncis,
terebus dalam kesengsaraan sampai wujud ataupun diri tak tersisa padamu lagi.
Jika engkau telah terputus dari taman bumi,
engkau akan menjadi makanan dalam mulut dan masuk ke kehidupan.
Jadilah gizi, energi, dan fikiran !
Engkau menjadi air bersusu: Kini jadilah singa hutan !
Awalnya engkau tumbuh dari Sifat-Sifat Tuhan: kembalilah kepada Sifat-Sifat-Nya !
Engkau menjadi bagian dari awan, matahari dan bintang-bintang:
Engkau akan menjadi jiwa, perbuatan, perkataan, dan fikiran.
Kehidupan binatang muncul dari kematian tetumbuhan: maka perintah, ‘bunuhlah aku, wahai para teman setia’ adalah benar.
Lantaran kemenangan menanti setelah mati, kata-kata, ‘Lihatlah, karena dibunuh aku hidup’ adalah benar.”